Showing posts with label Gobekli Tepe. Show all posts
Showing posts with label Gobekli Tepe. Show all posts

Monday, December 2, 2013

FAJAR SEJATI PERADABAN



Judul Asli: Civilization’s True Dawn
Penulis: David Robson
Source: NewScientist, 5 Oktober 2013, hal. 32-37

Apa yang sebenarnya mendorong nenek moyang kita sehingga mereka meninggalkan sebuah cara hidup yang telah mereka jalankan selama ribuan tahun dan menciptakan cara lain yang sepenuhnya berbeda? David Robson melaporkan.

Gรถbekli Tepe: Kuil Pertama di dunia di selatan Anatolia
Pada saat tim yang dipimpin oleh Steven Mithen mulai menggali tanah di sebuah gurun, mereka sebenarnya tidak terlalu banyak berharap. “Kami kira tanah itu hanyalah sebuah tumpukan tanah urukan yang tak berguna,” ucap Mithen.
Namun tetap saja, bahkan prospek pencarian dalam tumpukan sampah sekalipun bisa menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Pada awalnya Mithen, seorang arkeolog dari University of Reading, Inggris, hanya mendapatkan pandangan heran dari rekan-rekan sejawatnya ketika ia mengungkapkan niatnya untuk menggali reruntuhan zaman batu di selatan Yordania. “Mereka bilang kami tidak akan menemukan apa-apa di sana –tempat itu adalah tempat terpencil,” kata Mithen. Ia membuktikan bahwa mereka keliru dengan menemukan bekas-bekas sebuah desa primitif. Dengan meneliti di antara sampah-sampah urukan, Mithen berharap akan bisa mendapat gambaran keseharian dari kehidupan yang berlangsung lebih dari 11.000 tahun silam.
Namun pada saat mereka menggali guguran-guguran tanah, salah satu mahasiswanya menemukan sebuah lantai licin yang keras – yang tentunya bukan jenis struktur buatan manusia yang akan dibuang begitu saja ke ujung desa. Kemudian tersingkaplah serangkaian struktur yang ditinggikan berukiran simbol-simbol yang melingkar-lingkar. Semangat pun meningkat. “Semakin hari kami semakin bingung mendapati bahwa struktur tersebut semakin luas, semakin kompleks, dan semakin aneh,” ucap Mithen. “Saya tidak pernah melihat yang seperti ini. Secara harafiah, ini adalah saat di mana semua gagasan Anda berubah.”
Saat ini Mithen mengibaratkan struktur itu seperti semacam amfiteater kecil (lihat gambar). Dengan semacam tempat duduk berjejer di satu sisi bangunan yang mirip lingkaran, tampaknya struktur tersebut dibangun untuk tujuan perayaan atau pertunjukan, mungkin semacam pesta, musik, ritual-ritual, atau sesuatu yang bahkan mengerikan. Sambil menunjuk rangkaian selokan kecil yang menurun melewati lantai, Mithen menduga-duga apakah dulu di tempat itu pernah dilakukan pengorbanan darah di hadapan hiruk pikuk para penonton.