Judul Asli: Civilization’s
True Dawn
Penulis: David Robson
Source: NewScientist,
5 Oktober 2013, hal. 32-37
Apa yang sebenarnya
mendorong nenek moyang kita sehingga mereka meninggalkan sebuah cara hidup yang
telah mereka jalankan selama ribuan tahun dan menciptakan cara lain yang
sepenuhnya berbeda? David Robson
melaporkan.
![]() |
| Gรถbekli Tepe: Kuil Pertama di dunia di selatan Anatolia |
Pada saat tim yang dipimpin oleh
Steven Mithen mulai menggali tanah di sebuah gurun, mereka sebenarnya tidak
terlalu banyak berharap. “Kami kira tanah itu hanyalah sebuah tumpukan tanah
urukan yang tak berguna,” ucap Mithen.
Namun tetap
saja, bahkan prospek pencarian dalam tumpukan sampah sekalipun bisa
menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Pada awalnya Mithen, seorang arkeolog dari
University of Reading, Inggris, hanya mendapatkan pandangan heran dari
rekan-rekan sejawatnya ketika ia mengungkapkan niatnya untuk menggali
reruntuhan zaman batu di selatan Yordania. “Mereka bilang kami tidak akan
menemukan apa-apa di sana –tempat itu adalah tempat terpencil,” kata Mithen. Ia
membuktikan bahwa mereka keliru dengan menemukan bekas-bekas sebuah desa
primitif. Dengan meneliti di antara sampah-sampah urukan, Mithen berharap akan
bisa mendapat gambaran keseharian dari kehidupan yang berlangsung lebih dari
11.000 tahun silam.
Namun pada
saat mereka menggali guguran-guguran tanah, salah satu mahasiswanya menemukan
sebuah lantai licin yang keras – yang tentunya bukan jenis struktur buatan
manusia yang akan dibuang begitu saja ke ujung desa. Kemudian tersingkaplah
serangkaian struktur yang ditinggikan berukiran simbol-simbol yang
melingkar-lingkar. Semangat pun meningkat. “Semakin hari kami semakin bingung
mendapati bahwa struktur tersebut semakin luas, semakin kompleks, dan semakin
aneh,” ucap Mithen. “Saya tidak pernah melihat yang seperti ini. Secara
harafiah, ini adalah saat di mana semua gagasan Anda berubah.”
Saat ini
Mithen mengibaratkan struktur itu seperti semacam amfiteater kecil (lihat
gambar). Dengan semacam tempat duduk berjejer di satu sisi bangunan yang mirip
lingkaran, tampaknya struktur tersebut dibangun untuk tujuan perayaan atau
pertunjukan, mungkin semacam pesta, musik, ritual-ritual, atau sesuatu yang
bahkan mengerikan. Sambil menunjuk rangkaian selokan kecil yang menurun
melewati lantai, Mithen menduga-duga apakah dulu di tempat itu pernah dilakukan
pengorbanan darah di hadapan hiruk pikuk para penonton.
